ads

Saturday, 9 January 2016

MAHAPATIH GAJAH MADA

MAHAPATIH GAJAH MADA Ki Patih Gajah Mada, Mahapatih kerajaan Majapahit yang terkenal dan sangat dikagumi, ternyata adalah murid dari Ki Hanuraga, sesepuh Generasi III, Paiketan Paguron Suling Dewata. Menurut Parampara Perguruan Seruling Dewata, khususnya saat menceritakan kisah ketua angkatan ke III, Ki Hanuraga ( Ksatria Suling Gading ), tersirat kisah hidup Gajahmada. Gajahmada lahir di desa Mada, Mada Karipura, beliau ditemukan sekarat oleh seorang Maha Yogi Ki Hanuraga, di Jawa Ki Hanuraga di kenal dengan nama Begawan Hanuraga sedangkan di Bali beliau dikenal dengan nama dengan sebutan Mahayogi Hanuraga ( Sesepuh Generasi III Perguruan Seruling Dewata )beliau menguasai 72 kitab pusaka yang mempelajari 72 ilmu silat dan diwarisi oleh sesepuh-sesepuh sebelumnya seperti Ki Mudra dan Ki Madra sesepuh Generasi II, serta Ki Budhi Dharma sesepuh generasi I yang di diksa pada abad ke 5 – caka tahun ke 63 - bulan ke 11- hari ke 26 ( caka warsa 463 ). Mengenai Gajahmada , diceritakan, bahwa Gajahmada kecil bernama I Dipa, dia memanggil Ki Hanuraga dengan sebutan Eyang Wungkuk, dan belajar ilmu kanuragan selama 5 tahun sambil mempelajari ilmu ketata Negaraan, I Dipa ( Gajah Mada Kecil ) adalah seorang yang tidak memiliki siapa-siapa ( sebatang kara ), sebagai pengembala kambing. Perkenalan Mahayogi Hanuraga dgn I Dipa ( Gajahmada ), terjadi saat Ki Hanuraga melakukan pengembaraan ke tiga kalinya mengelilingi Nusantara ( kala itu di sebut Nusa Ning Nusa ), sebelum Mahayogi sakti ini kembali ke Pertapaan Candra Parwata di Gunung Batukaru di Bali ketika usia beliau sudah sepuh ( tua ), sesuai tradisi Perguruan sebagai seorang Mahayogi harus kembali ke pertapaan. Mahayogi Hanuraga menemukan Gajahmada, dipinggiran hutan dalam keadaan pingsan, antara hidup dan mati, karena kasihan Maha Yogi Ki Hanuraga mengobati dan menyembuhkan luka dalam Gajahmada. Dari Ki Hanuraga-lah I Gajahmada, belajar ilmu silat dan kanuragan, serta mengajari ilmu Tata Negara dan tercatat sebagai siswa Paiketan Paguron Suling Dewata di bawah bimbingan langsung sesepuh Generasi III , Ki Hanuraga. Gajahmada Kecil sering di ejek oleh teman temannya, karena dia memiliki kuping yg lebih besar dari kuping orang normal, sehingga dia di panggil I Gajah dari Desa Mada. kelak semua tahu bahwa nama Gajahmada inilah yang akhirnya menjadi terkenal di seluruh Nusantara sebagai Mahapatih yang maha sakti. ( di sadur dari Majalah Watukaru , Majalah bulanan Perguruan Seruling Dewata) Berikut beberapa petikan yang diambil dari Parampara Perguruan mengenai Ki Gajahmada dan Ki Soma Kepakisan, seperti yang dituturkan oleh Ki Hanuraga atau Ksatria Suling gading, sesepuh Generasi Ke III, Perguruan Seruling Dewata : Ki Gajahmada - Mahapatih Gajahmada - Ki Dipa ini adalah pengembaraanku yang ketiga dan merupakan yang terakhir menjelajahi Nusantara. Ketika aku melangkahkan kakiku dengan santai di pinggiran hutan dekat sebuah desa yang bernama desa Mada atau lengkapnya Madakaripura pada sebidang tanah datar pandangan mataku tertumbuk pada seorang anak yang sedang mengelepar bergulingan di tanah seperti sedang sekarat. Aku segera melompat ringan dan setelah dekat ternyata seorang anak berusia sekitar empat belas tahunan. tubuhnya sebenarnya tegap, tapi entah kenapa mengelepar-gelepar seperti sekarat menahan siksaan berat, tubuhnya memancarkan sinar merah, dan hijau berganti ganti ,berkali kali anak itu ingin berbicara kepadaku, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya hanya tangannya saja yang menunjuk nunjuk sebuah goa di pinggir hutan. dengan sigap aku melompat ke mulut goa, didalam goa aku melihat seekor ular naga Wilis sebesar pohon pisang yang panjangnya sekitar delapan depa, mati kehabisan darah, dan ada bekas gigitan di tubuh ular naga wilis ini, didekat bangkai ular naga wilis ada cahaya merah, setelah ku dekati ternyata "Ong Brahma" sebuah jamur berwarna merah sebesar niru, yang sebagian besar habis tercabik cabik, "Ong Brahma" adalah sebuah mustika langka yang menjadi rebutan kaum persilatan karena mampu melipatgandakan tenaga panas menjadi seribu kali lipat. Rupanya ular naga wilis ini adalah penjaga Ong Brahma yang langka ini. Bersyukur anak ini berjodoh dan bertemu denganku , jika tidak bertemu pesilat berilmu tinggi anak ini dapat dipastikan kematiannya, sebab minum darah ular saja bisa mati membeku kedinginan apalagi makan "Ong Brahma" akan kepanasan darah mengering. Jika makan keduanya akan tersiksa panas dan dingin secara bergantian dan akhinya mati. Tenaga dalam yang berhawa panas dan dingin yang bergejolak saling mematikan, aku isap habis habisan dengan "tenaga sakti isap bhumi", diselaraskan dalam dirinya, lalu disalurkan kembali ke tubuh anak ini sehingga seluruh nadi terbuka, seluruh garanthi ( simpul nadhis ) terbuka, tujuh cakra besar terbuka dan Kundalini terbangkitkan seketika, tenaga dalam masih berlebihan terpaksa dibagi ke 108 nadis di seluruh tubuh anak ini, baru dapat membebaskan anak ini dari kematian. Dari kemalangan terancam kematian mengerikan, berubah menjadi keberuntungan luar biasa, impian seluruh dunia persilatan dengan terbukanya seluruh nadhis, garanthi, cakra dan bangkitnya kundalini, orang biasa membutuhkan latihan puluhan tahun untuk mencapai tingkatan seperti ini. Setelah setengah hari anak ini pingsan, akhirnya sadar juga, wajahnya cemerlang berseri seri, begitu anak ini sadar langsung berlutut dihadapanku, rupanya anak ini sadar juga bahwa aku telah menyelamatkan jiwanya, setelah mengucapkan terimakasih anak ini mulai menuturkan riwayat hidupnya. Anak ini bercerita namanya "Dipa", tidak tahu siapa orang tua kandungnya sejak kecil ia sudah menjadi tapa daksa ( anak yatim piatu ), dan harus bekerja pada tuan tanah untuk menanggung hidupnya dia ditugaskan mengembala sapi, anak yang kehilangan sapi dihukum keras dicambuk, dipukuli bahkan jika berkali kali dipotong tangan atau kakinya. Anak ini bercerita bahwa dia telah kehilangan kambing 3 kali dan tentunya dia takut kembali karena akan menerima hukuman yang sangat berat bisa-bisa di hukum potong tangan atau kaki, sehingga untuk menghindari hukuman tersebut dia mencari ular naga wilis yang memakan kambingnya dan melarikannya ke dalam goa, ketika dililit sama ular naga wilis, Dipa menggigit tubuh ular dan meminum darahnya, ketika ular itu mati kerena kehabisan darah, ia merasa haus dan kelelahan dan melihat jamur merwarna merah yang meneteskan air dan ia pun langsung meminumnya dan meremas remas jamur tersebut agar mendapatkan lebih banyak air karena rasa haus sehabis berkelahi dengan ular naga wilis. Syukur hamba ( Dipa ) bertemu dengan tuan ( Ki Hanuraga ), dan nyawa hamba berhasil diselamatkan, sekarang hamba rasanya kuat, segar bugar, mulai sekarang hamba berguru kepada Tuan dan ikut kemanapun Tuan pergi, daripada hamba kembali ke desa akhirnya di hukum potong tangan atau potong kaki dan menjadi cacat seumur hidup.Aku tersenyum dan menerimanya sebagai siswa, namun aku hanya berjanji mengajarkannya selama lima tahun saja, Dipa sering menyebutku dengan Eyang Wungkuk, aku terpaksa menetap di hutan bersama Dipa selama lima tahun mengajarinya ilmu silat dan ilmu ketatanegaraan. aku menyimpulkan bahwa Tenaga dalam Dipa sudah sangat dahsyat melebihi pendekar tangguh, sehingga aku hanya perlu mengajarkan ilmu silat dan senjata serta tehnik bertarung . kalau memungkinkan mengajarkan ilmu ketatanegaraan, siapa tahu ia mengabdi di sebuah kerajaan di kemudian hari. mulai saat itu anak yang bernama Dipa mulai digembleng ilmu ilmu rahasia Gunung Watukaru, baerlatih siang dan malam, tahan terhadap rasa sakit dan rasa lelah, tiada menghiraukan lapar dan haus, berlatih tanpa henti, tidak menghiraukan panasnya matahari dan teriknya hujan berlatih dan terus berlatih, tiada hari tanpa berlatih. Tepat sebulan, aku dan Dipa tinggal di pondok terpencil, tiba-tiba datanglah seorang pendeta tua dengan seorang muridnya yang masih muda berusia sekitar 20 tahunan. Pendeta ini terluka parah, isi dada dan organ dalam yang lain telah hancur terguncang, pendeta ini bernama Maharsi Gunadewa dan muridnya bernama Soma Kepakisan. Maharsi Gunadewa terluka dalam yang sangat parah setelah terlibat pertarungan dengan saudara seperguruannya memperebutkan buku warisan perguruan yang mana dalam pertarungan itu ia dikalahkan oleh adik seperguruannya dan dengan sisa tenaganya ia berusaha mengajak murid kesayangannya melarikan diri, rencananya ia akan ke Gunung Watukaru di bali Dwipa, agar muridnya mendapatkan pelajaran yang sempurna. Aku memperkenalkan diriku sebagai Begawan Hanuraga, pewaris Paiketan Paguron Suling Dewata di gunung Watukaru, mendengar namaku sang Maharsi tersenyum puas, sambil berbicara terpurus purus Sang Maharsi memohon agar menerima muridnya menjadi murid Gunung Watukaru, akupun menyanggupi agar Dipa ada teman berlatih. Hasilnya akan jauh lebih baik ketimbang berlatih sendiri. Sang Maharsi Gunadewa tersenyum puas, sambil berkata "perjalananku tidak sia-sia", iapun meninggal sambil tersenyum puas. Mulai saat itu aku membina dua siswa di tanah Jawa, semuanya sangat berbakat hampir sama bakat dan semangatnya dengan semangatku dimasa muda dulu. aku betul-betul puas dengan kemajuan kedua muridku ini, kemajuan yang pesat dalam waktu yang sangat singkat. Ternyata kemajuan yang dicapai kedua muridku ini selalu seimbang, Dipa mempunyai tenaga dalam yang sangat kuat karena meminum darah ular naga wilis dan jamur merah "Ong Brahma", sedangkan Soma juga sama kuatnya karena pernah memakan mustika perguruannya berupa telur penyu ribuan tahun dan telur rajawali putih ribuan tahun. Ditempat terpencil ini tak sia-sia penyepianku selama lima tahun di tanah Jawa, dapat dipastikan aku berhasil membina dua ksatria lelananging jagat, setelah dirtempa dengan ilmu kawisesan dan kedigjayaan, dibawah bimbinganku Dipa dan Soma berlatih dengan sungguh-sungguh, tiada henti, ditempa teriknya matahari, dibawah guyuran hujan, berlatih dikegelapan malam. Ditempa berbagai ilmu dahsyat Gunung Watukaru, tiga ratus enam puluh gerakan melemaskan tulang, delapan belas macam kuda kuda, delapan belas pukulan, delapan belas tendangan, delapan belas tangkisan, delapan belas ilmu pergeseran kaki, delapan belas ilmu berguling, delapan belas ilmu mengelak, delapan belas ilmu penyatuan tenaga tangan, dan delapan belas ilmu sapuan. Selanjutnya aku ajarkan Lima macam ilmu silat dasar yang disebut Ilmu Silat Depok, Ilmu Silat Setembak, Ilmu Silat Kerta Wisesha, Ilmu Silat Panca Sona, Ilmu Silat Tat Twam Asi, setiap silat dasar terdiri dari 36 jurus dasar, dan hanya memerlukan 42 hari Dipa dan Soma berhasil menguasai kelima ilmu dasar tersebut. Sehingga Dipa dan Soma sudah siap menerima ilmu tertinggi dari puncak barat Gunung Watukaru yang berjumlah 72 dari Paiketan Paguron Suling Dewata, Ilmu silat Bhumi dan Langit, ilmu silat delapan penjuru angin, ilmu silat ombak samudra dan seterusnya ..................( di sadur dari majalah Watukaru, edisi 2 dan 3 ). Berikut di ceritakan dalam Parampara Perguruan, bagaimana Ki Dipa ( Gajahmada ) dan Ki Soma ( Soma Kepakisan ) di latih siang dan malam selama kurang lebih lima tahun di tengah hutan, sampai akhirnya kedua murid yang sangat hebat dan berbakat ini menguasai semua ilmu tertinggi dari Pertapaan Candra Parwata "Gunung Watukaru", berikut adalah beberapa petikan seperti di ceritakan................. Selanjutnya kedua muridku Dipa dan Soma aku bekali dengan berbagai Ajian yang maha dasyat seluruhnya ada delapan belas ribu enam ratus enam puluh tujuh ajian seperti : Ajian Sang Hyang Wisesa, ajian Tutur Menget Ajian Palungguhan, Ajian Pegantungan Pegating Tiga, Ajian Pelalangon, Ajian Telaga Membeng, Ajian Pagedongan, Ajian Minaka Dharma, Ajian Wewadonan Titi Murti, Ajian Sarining Kelanangan, Ajian Yata, Ajian Pamuteran, Ajian sayu rahina Sada, Ajian Masun, Ajian Weruhing Bapa Babu, Ajian swakar, Ajian Tri Pemuteran, dan sebagainnya. Kemudian aku turunkan Ajian kamoksan di bagian akhir, Merupakan tujuan akhir manusia hidup di dunia, bebas ikatan kelahiran berulang, hingga menyatu dengan Hyang Widhi - Tuhan Yang Maha Esa seperti : Ajian Kalepasan ring sarira, Ajian Tutur Kalepasan, Ajian Wekasing Ujar, Ajian sang Hyang Dharma, Ajian wekasing Saputih, Ajian Dharma Kalepasan kamoksan, serta Ajian pakekesing Pati, dan sebagainnya ……….... Paling akhir, aku turunkan 8 tahapan dyana yang paling berat merupakan tempaan akhir paling berat dari Puncak Watukaru yaitu : berendam di air sampai air setinggi leher selama tujuh hari tujuh malam, Samadhi di Goa “Agni Mandala” goa panas tiada tara, panas asli dari pusat bhumi selama tujuh hari tujuh malam. Tubuh tergantung terbalik, bagaikan seekor kelelawar di dahan pohon nan rindang Bhumi di atas kepala, langit di bawah tapak kaki selama tujuh hari tujuh malam,…….., Selanjutnya merangkak di tanah bagaikan seekor kijang selama tujuh hari tujuh malam,.. Tubuh tertanam ditanah/pasir setinggi leher selama tujuh hari tujuh malam, Menahan terjangan air terjun dengan ubun ubun yang lembut selama tujuh hari tujuh malam,. kemudian menutup diri di dalam “Goa Sunia Mandala” selama tujuh hari tujuh malam tidak tahu siang dan malam tiidak melihat rupa dan warna, tidak mengenal arah, tidak merasakan semilir angin, tidak mendengar segala macam suara, badan bagaikan ada dan tiada. Terakhir menatap matahari selama seratus hari dan menatap rembulan selama tujuh malam sebelum saat dan setelah purnima. Tempaan berat dari puncak barat, telah dilampaui semua tanpa terasa waktu lima tahun telah berlalu, serasa baru kemarin, muridku Dipa dan Soma sedang duduk dihadapanku akhirnya waktu belajar kamu berdua telah selesai, eyang akan meninggalkanmu Berpisah dengan Maha Guru Ki Hanuraga .......... Selama eyang pergi berlatihlah bersama dengan rajin, apa yang engkau telah capai saat ini baru sekedar tahu, ilmu ini dapat disempurnakan terus tanpa batas, sehingga kekuatannya meningkat puluhan, ratusan bahkan ribuan kali lipat dari yang engkau capai saat ini. Muridku Dipa bersujud, Guru hamba mohon ijinkan hamba ikut pergi kemanapun engkau pergi agar hamba dapat melayani mengurus segala keperluan guru, Soma juga ikut memperkuat agar keduanya ikut bersama. Muridku berdua engkau tidak usah khawatir, Eyang sudah biasa mengurus diri sendiri, selama pengembaraan demi pengembaraan. Hanya saja selama lima tahun ini engkau berdua selalu memanjakanku dengan pelayanan yang luar biasa, sepertinya aku ini seorang raja, Engkau berdua tidak boleh ikut mengembara, engkau harus rajin berlatih menyempurnakan ilmu, jika engkau ikut engkau hanya menghambat gerak langkah eyang saja. Ilmu lari cepat, peringan tubuh yang engkau miliki belum ada sepersepuluh dariku sehingga akan terlambat. Engkau harus selalu bersama, berlatih bersama, saling mengawasi, saling mengingatkan kesalahan masing-masing, setelah itu jalankan dharmamu, jangan sekali-sekali merusak nama Pertapaan Candra parwata di Gunung Watukaru dengan ilmumu. Jika engkau merusak nama Perguruan Paiketan Paguron Suling Dewata, betapapun aku sayangnya sama engkau berdua, aku tidak dapat menyelamatkan nyawamu akan ada utusan dari Puncak barat untuk mencabut dan memunahkan ilmumu bila perlu mencabut nyawamu sekalipun. Setelah Dipa dan Soma melakukan “PADA SEWANAM “ ( memeluk kaki Brahman) biasa dilakukan oleh seorang anak kepada guru dan orang tuanya. Akupun pergi meninggalkan kedua muridku yang masih tetap berlutut ditanah sambil melantunkan wirama nawa sangga astawa. Gajahmada dan Soma Kepakisan memilih jalan berbeda dalam mengabdikan ilmunya........ Diceritakan Dipa dan Soma setiap hari berlatih siang dan malam tidak mengenal bosan dan tidak mengenal lelah, kian hari ilmunya semakin meningkat pesat keduanya saling mengawasi selama latihan, saling memperbaiki kesalahan, berlatih dan terus berlatih. Tanpa terasa dua tahunan Dipa dan Soma berlatih bersama tanpa bimbingan langsung dari Eyang Wungkuk ( Ki Hanuraga), ilmunya telah meningkat puluhan kali lipat dari sebelumnya. Setelah berlatih mereka duduk istirahat berdua dengan santai. Soma memulai bicara mengeluarkan idenya, Dipa saya telah menyiapkan sebuah Goa tempat berlatih yang aku namakan “Goa Kepakisan“ sesuai dengan namaku “Soma Kepakisan”, kita masuk goa dan berlatih disana tidak keluar goa selama hidup kita agar ilmu kita sempurna. Dengan begitu selain ilmu kita sempurna kita terjamin tidak merusak Perguruan dan Pertapaan yang ada di Gunung Watukaru Bali, terus terang saja ngeri aku membayangkan peringatan dari Maha guru kita, Wahai saudaraku Soma aku justru punya pendapat lain, Ilmu yang kita miliki harus kita amalkan agar berguna bagi nusa dan bangsa khususnya dan seluruh umat manusia di dunia, aku justru ingin mengajak saudara Soma mengabdi di kerajaan kalau kita terkenal menjadi penjabat yang baik Perguruan kita akan bangga pada kita berdua. Dipa, ingat pesan Mahaguru kita harus selalu bersama, saling mengawasi saling mengingatkan jika ada yang melakukan kesalahan baru dua tahun jauh dari guru kita sudah berbeda pendapat kalau begitu bagaimana kalau kita taruhan melalui pertarungan sekaligus menguji diri, yang kalah harus mengikuti ajakan yang menang jika aku kalah, aku akan mengikutimu mengabdi di kerajaan, tapi jika engkau kalah harus mengikutiku bertapa Bertapa seumur hidup di dalam Goa Kepakisan, sambil berlatih dan terus berlatih sampai ilmu kita sempurna seperti mahaguru, sehingga jika suatu saat berjodoh bertemu kembali dengan Mahaguru, maka ilmu kita sudah sempurna seperti beliau, dan beliaupun bangga pada kita sebagai muridnya. Disepakati bersama antara DIPA dan SOMA bersiap-siap melatih diri selama 1 bulan dan bulan depan kita bertarung menentukan siapa yang lebih unggul diantara murid Mahaguru Eyang Wungkuk dan jangan lupa akan taruhan yang kita sepakati bersama. Di pagi yang cerah diwaktu yang telah disepati bersama antara DIPA dan SOMA, keduanya sudah sama siap dan pertarunganpun dimulai tanpa orang ketiga sebagai penengah Pertarungan demi pertarungan, semua macam ilmu yang dipelajari dikeluarkan semua namun dari awal sampai akhir setelah satu hari satu malam ternyata mereka berdua sama kuat Dipa dan Soma keduanya tersenyum sambil napas masih tersengal-sengal, Soma lebih dulu berkata “Bagaimana Dipa –ternyata tenaga dalam, tenaga bathin dan ilmu silat kita berimbang sama kuat“ belum kita sepakati sebelumnya Apa kamu tetap ingin mengabdi di kerajaan? Jika engkau tetap ingin mengabdi aku tidak melarang, sedangkan aku sendiri bertapa seumur hidupku Sekarang terserah engkau kekuatanku tidak cukup untuk memaksamu mengikuti kehendakku, sebelum engkau pergi mengabdi dikerajaan, marilah kita pergi ke Goa Kepakisan, aku minta tolong, apakah tenaga dalam gabungan kita mampu menghancurkan pintu goa yang telah kurancang sangat kuat untuk menahan agar tidak bisa keluar lagi. Dipa dan Soma bersama menuju Goa Kepakisan Sesampainya disana Dipa dan Soma mengerahkan segenap tenaga dalamnya digabungkan untuk mengempur pintu goa, namun sampai 3 kali dipukul tidak mampu menghancurkan pintu goa kepakisan. Soma berkata, selamat jalan saudaraku aku segera masuk goa dan menutup pintu dan tidak keluar lagi selamanya. Setelah masuk goa Soma sangat tekun berlatih, setiap hari berlatih tanpa mengenal bosan dan tanpa mengenal lelah, hari-hari dilalui dengan berlatih. Ilmunya meningkat pesat, seperti perkataan Mahaguru Eyang Wungkuk, ilmu yang dikuasainya dapat disempurnakan terus menerus sepuluh, ratusan bahkan ribuan kali lipat. Gajahmada menyelamatkan Putri Majapahit.......... Sementara Dipa ( Gajahmada ) berjalan dan terus berjalan, menuju sebuah kerajaan yaitu kerajaan majapahit. Ketika tiba disebuah jalan tanjakan terjal, Dipa tiba-tiba melihat Kereta indah sedang lari kencang diluar kendali, ada 2 orang wanita cantik di dalamnya. Melihat bahaya mengancam tanpa pikir panjang Dipa meloncat sigap menahan kuda dan kereta yang nyaris masuk jurang dan Dipa berhasil menyelamatkan kedua putri tersebut. Ternyata kedua Putri yang ditolong ini adalah Putri Kerajaan Majapahit yang baru pulang dari Istana Daha. Kedua Putri ini yang masih ketakutan dan wajahnya nampak pucat, mengucapkan terima kasih atas pertolongannya. Dipa memperkenalkan diri dengan nama ejekan diwaktu kecil yaitu Gajah Mada, selanjutnya berpamitan akan melanjutkan perjalanan ingin mengabdi di Kerajaan Majapahit. Sang Putri bertanya kamu ingin ke Majapahit? Dipa mengangguk. ketahuilah Mada, kami ini adalah Putri dari Kerajaan Majapahit adik sepupu dari raja Kalagamet. Kalau ingin ke Majapahit ikutlah dengan kami nanti akan kuperkenalkan dengan petinggi kerajaan. Gajah Mada akhirnya memutuskan ikut dengan kedua putri menuju kerajaan Majapahit. Sesampai di Kerajaan kedua putri ini disambut oleh Kakaknya raja Kalagamet atau Jayanegara dan kedua ibunya Gayatri dan Tribuana serta Patih Arya Tadah. Kedua Putri menyampaikan dihadapan kakak dan Ibunya serta Patih yang kebetulan ada di sana, bahwa kudanya mendengar auman harimau, lalu berlari kencang dengan binalnya, hampir saja terprosok masuk jurang kalau tidak ditolong Gajah Mada yang dengan sigap menahan laju kuda dan kereta. Gajah Mada ingin sekali mengabdikan diri dengan ilmu yang dimiliki di Kerajaan Majapahit. Makanya aku membawanya serta. Kakak raja bagaimana ini dapatkah kakak membantunya. Tenang saja adikku, kakak nanti mengaturnya dengan Paman Patih Arya Tadah. Paman lagi 10 hari kan ada sayembara masal untuk memilih Prajurit baru tolong paman atur Gajah Mada bisa ikut. Sendika Paduka, percayakan Gajah Mada dibawah binaan Hamba, percayalah hamba akan membinanya dengan binaan khusus tentang Tata Keprajuritan dan ketatanegaraan, sambil menunggu waktu pelaksanaan sayembara biarlah Gajah mada tinggal di kediaman kepatihan. Sudahlah adikku berdua sekarang engkau istirahatlah dengan tenang ucapan trimakasihmu pada Gajah Mada sudah kakak tuntaskan. Selanjutnya, Patih Arya tadah berpamitan dengan Paduka raja serta kedua Ibu suri dan kedua putri berjalan bersama dengan Gajah Mada menuju kediaman patih yang berada disamping barat istana kerajaan Majapahit. Selama diperjalanan keduanya bercerita, saling memperkenalkan diri lebih dalam. Selama di kepatihan Patih Arya Tadah mengajari tata keprajuritan ternyata ilmu silat Gajah Mada menurut pandangan Patih sangat luar biasa, Patih sendiri hanya mampu bertahan 30 jurus sudah dapat dikalahkan oleh Gajah mada, padahal di Majapahit hanya beberapa orang yang mampu mengimbangi kemampuan olah kanuragan/kedijayaannya, tapi Gajah Mada adalah bibit baru yang sangat luar biasa. Patih Arya Tadah berkata Gajah Mada untuk bisa menjadi petinggi kerajaan seperti aku ini, tidak saja harus menguasai ilmu silat tingkat tinggi tetapi juga harus menguasai ilmu ketatanegaraan sekarang aku ingin mengajarimu ilmu ketata negaraan. Namun lagi-lagi Patih Arya tadah terkesima atas ilmu ketatanegaraan yang telah dikuasai Gajah Mada, disamping itu Gajah Mada mempunyai rancangan bagaimana menjadikan Majapahit kerajaan yang terbesar. Menurut Gajah Mada Majapahit harus menguasai seluruh kerajaan kecil yang ada di Nusantara baru boleh dikatakan sebagai kerajaan besar diseluruh dunia yang dapat disamakan dengan kerajaan besar di India maupun kerajaan besar di Tionggoan dan lain sebagainya. Untuk itu struktur petinggi kerajaan harus dibuat dan dirancang seperti begini agar mampu memimpin wilayah yang luas. Patih Arya Tadah terkesima, Gajah Mada dengan ilmu silat dan Ilmu Ketata Negaraan ajaran gurumu engkau sepatutnya menjabat sebagai Mahapatih Majapahit. Ampun Paman patih, menurut guruku agar hamba mampu seperti yang paman patih inginkan hamba harus belajar dari prajurit terendah dan sedikit demi sedikit meningkat sampai yang tertinggi. Gajahmada mengabdikan diri sebagai Prajurit di Majapahit ............... Tanpa terasa waktu 10 hari sudah berlalu di pagi hari yang cerah ribuan pemuda telah berkumpul dialun-alun kerajaan, siap mengadu ketangkasan, mengadu ilmu silat tangan kosong maupun senjata, ilmu kadigjayaan maupun ilmu kawisesan. Akhirnya setelah tiga hari diadakan sayembara, pertarungan demi pertarungan berlalu akhirnya terpilih 300 pemuda calon prajurit baru. Para senopati dan patih Majapahit sangat terkejut akan ilmu olah kanuragan yang dikuasai Gajah mada, ia hanya membutuhkan 3 gerakan untuk menjatuhkan lawan-lawannya. Para senopati dan patih kerajaan Majaphit menjadi gatal tangan untuk menjajal ketinggian ilmu yang dikuasai Gajah Mada. Akhirnya telah ditetapkan 300 orang terpilih jadi calon prajurit semua calon prajurit boleh pulang, lagi seminggu harus kumpul kembali, untuk menerima pelatihan keprajuritan selama 3 bulan. Sementara yang lain pulang Gajah Mada dipanggil khusus agar tetap ditempat. Ternyata para senopati dan para patih semuanya ingin menjajal ilmu olah kanuragan dan kadigjayaan Gajah mada, akhirnya semuanya sudah mencoba, menjajal kemampuan Gajah Mada tidak ada Senopati/Patih yang mampu bertahan lebih dari 30 gerakan. Para Senopati, para patih semuanya merasa bengong semua terdiam, banyak yang menyarankan agar Gajah Mada langsung diangkat sebagai senopati atau patih sekalian. Namun Gajah dengan sangat santun menolaknya. Ampun Gusti, hamba ingin belajar dari yang terendah, agar hamba memiliki pengetahuan yang lengkap dan utuh. Akhirnya setelah menjalani pelatihan selama 3 bulan. Gajah Mada diangkat menjadi prajurit terendah. Setelah 6 bulan, langsung diangkat sebagai Bekel Prajurit. Gajahmada menyelamatkan Raja Majapahit ............. Ketika menjabat sebagai bekel prajurit selama 4 bulan. Ada peristiwa penting dimana terjadi kekacauan total di Istana kerajaan. Pemberontakan Kuti berhasil menguasai ibu kota dan seluruh kerajaan. Gajah Mada dengan 12 orang prajurit rendahan mampu menyelamatkan Raja. Gajah mada sambil mengendong Raja menerobos ribuan pasukan pembrontak yang menghalangi terhajar, teman prajurit sudah menunggu di luar istana, lalu setelah kumpul semua, lalu lari bersembunyi disebuah desa terpencil bernama Bedander, ada satu teman prajurit Gajah Mada, ingin minta ijin pulang. Hal ini sangat berbahaya, bisa ditangkap prajurit diancam keluarganya pasti mengaku. Gajah mada sebagai bekel (pimpinan prajurit) melarang dengan tegas demi keamanan raja. Prajurit ini ingin pergi secara diam-diam, hal ini sudah diperhitungkan oleh Gajah mada, yang setiap saat waspada. Prajurit ini terpaksa dibunuh demi terjaminnya keselamatan raja. Hal ini dijadikan contoh bagi yang lainnya. Gajah mada menyuruh semua prajurit di bawah pimpinannya agar melindungi raja dengan taruhan nyawa. Selanjutnya Gajah Mada dengan ilmu yang dimilikinya pergi keistana melihat keadaan, mencari dan mengumpulkan orang-orang yang masih setia kepada Raja. Beberapa petinggi yang setia didapat Seperti Mahapatih Arya tadah, Mpu Nala dsb. Selanjutnya Mahapatih Arya Tadah dan Mpu Nala mulai menghimpun petinggi kerajaan yang masih setia pada raja dipihak lain meskipun Kuti berhasil menguasai istana kerajaan tetapi karena raja belum ditangkap/belum dibunuh, merasa waspada kemenangan terasa hampa/terasa sia-sia, gara-gara raja tidak tertangkap Kuti penasaran Siapa tokoh sakti yang menyelamatkan raja yang mampu menerobos kepungan beribu-ribu prajurit. Kemana raja dibawa, kecepatan larinya seperti angin, setiap yang menghadang dalam sekali tebas binasa. Sementara Kuti menang tapi terasa hampa dan kebingungan. Dipihak lain Mahapatih berhasil menghimpun petinggi yang masih setia pada raja, ternyata sebagian besar petinggi dan prajurit bawahannya masih setia kepada raja. Di pagi yang cerah seluruh rakyat dan petinggi kerajaan serta seluruh prajurit-prajurit yang masih setia berkumpul dialun-alun semuanya siap menyambut kedatangan raja. Pada saat itulah raja datang dengan penuh wibawa. Saat itu juga Raja bertitah. Tangkap Ra Kuti Ampuni yang menyerah. Gajah mada dengan Ilmu yang dimiliki dengan mudah menangkap dan melumpuhkan Kuti tanpa banyak Korban Jiwa. Karena Jasanya Gajah mada diangkat sebagai Patih. Gajahmada di angkat sebagai Mahapatih di Kerajaaan Majapahit............... Setelah beberapa lama Gajah mada sebagai patih, kelihatanlah dimanapun ia ditempatkan daerah itu menjadi aman tentram daerah itu menjadi maju tata tentram kerta raharja gemah ripah loh jinawi. Akhirnya berkali-kali berpindah tempat, dan akhirnya menjadi seorang mahapatih majapahit pada cakawarsa 1253 di hadapan kedua Prabu Putri Majapahit pada saat itulah ketika Gajah Mada diangkat sebagai Mahapatih Kerajaan Majapahit dengan gelar “MAHAMANTRIMUKYA RAKRIAN MAHAPATIH MANGKUBHUMI GAJAH MADA“. Pada saat dilantik sebagai Mahapatih inilah Gajah Mada mengucapkan “SUMPAH PALAPA“ yang membuat banyak orang kagum ada juga yang tersenyum sinis ada menganggap sombong. Kerajaan Majapahit Kedepan haruslah merupakan Majapahit yang besar, kebesaran Majapahit dimasa mendatang hanya Bisa dicapai melalui “Persatuan dan Kesatuan“, semua orang harus merasa satu dan menjadi bagian dari yang satu. Majapahit harus bisa mengajak, menggandeng bila perlu memaksa Negara-negara di Nusantara bersatu menjadi satu kesatuan. Kerajan-kerajaan yang mau bersatu secara sukarela, maupun Kerajaan yang mau bersatu kerena dipaksa lewat peperangan, harus kita perlakukan sama dengan kawasan majapahit dalam arti jangan diperlakukan sebagai daerah jajahan atau daerah taklukan dia harus diperlakukan sama dengan petinggi darakyang Majapahit yang lain, ia harus merasa sebagai orang Majapahit, dan dengan bangga berkata “Aku Wong Mojopahit” Untuk mempersatukan Kerajan-kerajaan di seluruh nusantara dari ujung bhumi disebelah timur, sampai ujung bhumi disebelah barat, agar menjadi satu kerajaan yang besar dan jaya Dibawah Panji Majapahit, maka Majapahit termasuk kita Semuanya harus bekerja keras. Majapahit harus Mampu mengajak dan menggandeng Bila perlu memaksa, kerajaan-kerajaan di nusantara mulai dari Kerajaan Onin diujung paling timur nusantara, sampai Kerajaan Tumasik diujung paling barat Nusantara, agar bersatu sebagai satu kesatuan yang bulat dan utuh dibawah kebesaran Panji-panji kerajaan Majapahit. Jika ingin besar Majapahit tidak boleh mengambil keuntungan dari Kerajaan lain dan menganggap sebagai daerah jajahan atau taklukan, harus memperlakukan sama, penderitaan disuatu wilayah tertentu harus dirasakan oleh seluruh wilayah majapahit, ancaman bagi suatu daerah tertentu harus dirasakan sebagai ancaman seluruh kerajaan Majapahit. Maka semua rela mati untuk membela dan mempertahankan Majapahit yang besar. Gajahmada dengan Sumpah Palapa ................. Untuk mewujudkan Keinginanku, atas Majapahit yang besar, untuk mewujudkan mimpi kita semua “Aku Bersumpah Hamukti Wiwaha dan Hamukti Palapa“, aku tidak akan bersenang-senang sampai kapanpun, sampai Majapahit yang kita inginkan bersama Menjadi kerajaan yang besar dan jaya mampu mempersatukan seluruh Nusantara. Lamun huwus kalah Nusantara ingsung Amukti Palapa, Lamun Kalah ring gurun, ring seram, ring tanjungpura, ring haru, Ring Pahang, ring dompu, ring bali, ring sunda, ring Palembang, ring tumasik Samana ingsun amukti palapa“ “ Jika telah berhasil Menundukkan Nusantara, Aku baru akan beristirahat. Jika Gurun, Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik telah tunduk Barulah aku akan beristirahat". Ketika Gajah Mada, Selesai mengucapkan Sumpahnya ada sekelompok orang yang mentertawakannya, secara terang-terangan di paseban majapahit, seketika merah padam wajah Gajah mada, dadanya segera membusung amarah melanda dirinya "Wahai orang-orang Majapahit yang ada di Paseban ini, siapapun kamu, yang tidak menyetujui sumpahku, atau menganggap sumpahku main-main, keluarlah sekarang juga menuju alun-alun. mulai saat ini aku bekerja membersihkan pikiran sesat yang berbeda, mari kita bertarung secara ksatria jika ada yang mampu mengalahkan Gajah Mada Maka jabatan sebagai Mahapatih Akan kuserahkan kepadamu". Mereka yang Tadinya mentertawakan Sumpah Gajah mada ada beberapa berjalan menuju alun-alun Ra kembar, disusul Banyak, Warak, Jabung Tarewes, Lembu Peteng dan lain lain. Berjalan menuju alun-alun, suasana memanas, Ra Kembar mencabut kerisnya langsung menyerang Gajah mada. Gajah Mada diam Menerima tusukan keris dengan dada yang bidang saat itu juga ia menangkap dan mematahkan leher lawannya. Ra kembar tewas Dalam satu gerakan. Itulah kesungguhan Gajah mada akan Sumpahnya, ia tidak ingin orang menganggapnya main-main, nyawa sebagai pertaruhan kesungguhannya. Menyaksikan Ra kembar tewas dalam satu gebrakan semua orang menjadi kecut nyalinya, semua mundur tidak ada lagi yang berani menantang Gajah mada, sumpah itu dianggap Keramat dengan taruhan nyawa bagi yang meremehkannya. Pengangkatan Gajah Mada Sebagai Mahapatih Majapahit dengan gelar “MAHAMANTRIMUKYA RAKRIAN MAHAPATIH MANGKUBHUMI GAJAH MADA“ menyebabkan Dipa menjadi sosok yang Begitu terhormat, tidak sembarang orang bisa bertemu dengannya, tidak sembarang bisa memanggil namanya tanpa sebutan Kehormatan. Nasehat Guru Ki hanuraga kepada Gajahmada ( I Dipa )......... Jika Dipa ( Gajahmada ) ingin mempersatukan Nusantara, ingat di Nusantara ada 4 pusat belajar beladiri yang tertinggi/terbaik dianggap Watukaru kita ini. Yang kedua adalah Pajajaran Madangkara di Jawa Dwipa bagian barat, yang ketiga adalah Bukit Siguntang di Swarna Dwipa dan terakhir Lembah Saweri Gading. Berhati-hatilah disekitar daerah itu banyak tokoh-tokoh berilmu tinggi, bila perlu buatlah pasukan khusus Ahli silat seperti Bala Dewata. Bala Dewata adalah kumpulan pesilat tangguh yang bertugas melindungi dan menegakkan keadilan, bertugas juga melindungi Watukaru dan jagat Bali. Sekaligus bertugas menangkap, memunahkan ilmu atau menghukum mati para murid murtad yang meresahkan masyarakat dan merusak nama perguruan Paiketan Paguron Suling Dewata Di Watukaru. Ki Hanuraga lalu menyerahkan lontar kecil berisi Kurikulum latihan ilmu Pasukan Bala Dewata seperti,12 tehnik Membunuh Cepat, tehnik pedang yang mampu membunuh lawan dalam satu atau dua tebasan,12 tehnik Mati Sampyuh, ilmu pisau yang dapat membunuh pesilat tangguh Dengan mengajak mati bersama, ilmu menyamar, Ilmu pendengaran Dewa untuk mendengar berbagai rahasia lawan. Pasukan ahli silat yang engkau bentuk jangan sekali-kali dinamakan Pasukan Bala Dewata agar, yang aku berikan ini di luar aturan mari kita jaga kerahasiaannya. Setelah memberikan berbagai nasehat, akhirnya kedua Guru dan murid berpisah. Ki hanuraga ke Timur menemui Kebo Iwa dan meletakkan Batu dari pusat bhumi yang kekerasannya puluhan kali lipat dari Batu sungai yang paling keras, sebagai ujian terakhir Dari Kebo Iwa. Disamping berbagai cara Menyempurnakan ilmu lainya. Bertemu kembali dengan Soma Kepakisan .......... Sementara itu Soma Kepakisan menuju ke barat Ke Jawa Dwipa,langkahnya tertuju pada Kerajaan Wilwantikta atau Majapahit dimana Dipa mengabdikan dirinya Ketika sampai dialun-alun depan Istana. Soma Kepakisan melihat ada banyak prajurit menjaga keamanan Istana. Soma Kepakisan menanyakan keberadaan Dipa sekaligus mohon diijinkan Bertemu. Dua prajurit tersinggung ada orang berani memanggil nama langsung Mahapatih, maka langsung Soma kepakisan ditangkap. Namun kedua prajurit yang menangkap Soma Kepakisan terpental dan menjerit kesakitan, hal ini Menarik perhatian prajurit yang lain, datanglah 11 orang Prajurit mengurung ingin menangkap Soma Kepakisan, semuanya terpental sambil menjerit kesakitan. Tiba-tiba muncul 33 orang prajurit baru mengurung dan menangkap Soma Kepakisan, semuanya dalam Waktu sungkat bergulingan diatas tanah namun tidak ada yang meninggal, hanya luka-luka, tiba-tiba datang 100 Orang Prajurit. Soma Kepakisan sekarang dikurung oleh 100 orang prajurit, namun tidak berhasil menangkapnya, siapa yang memegang terpental terguling-guling ditanah mengaduh kesakitan, dalam waktu singkat 100 prajurit telah terkapar ditanah, segara datang 500 Prajurit karena suasana tambah ribut, seorang bekel prajurit memberanikan diri menghadap Mahapatih Gajah mada, melaporkan kejadian dialun-alun depan istana. Ketika Gajah Mada dengan langkah lebar berjalan ke alun-alun, dari 500 prajurit hampir 300 orang sudah terkapar di tanah. Ketika dari jauh mengamati keributan betapa terkejutnya Gajah Mada bahwa yang dikurung adalah saudara seperguruannya Soma Kepakisan. Maka secepatnya Gajah Mada memerintahkan agar semua prajurit Bayangkara mundur sambil mengangkat teman yang terluka, Gajah Mada Sendiri lari ke tengah alun-alun saling berangkulan satu Sama lain. Bagaimana kabarmu Dipa dan bagaimana kabar kakang Soma. Akhirnya Keduanya duduk ditanah di tengah alun-alun tidak memperdulikan prajurit yang bengong kebingungan, akhirnya satu demi satu prajurit ditarik mundur untuk mengobati dan mengatur kembali petugas pengamanan istana Majapahit. Tanpa disadari keduanya sibuk bercerita sampai senja tiba. Intinya Gajah Mada telah berhasil dalam pengabdiannya di Majapahit dan sekarang diangkat sebagai Mahapatih Majapahit, bukan sekedar patih biasa. Boleh dikatakan merupakan orang kedua di Majapahit di bawah raja. Ketika diangkat sebagai Mahapatih ia mengangkat sumpah ingin mempersatukan Seluruh Nusantara di bawah Panji majapahit. Agar tidak mudah diganggu kerajaan besar Di Jambu Dwipa (India) Tionggoan, Yunania.

No comments: